Detik berdetak lambat.
Hari berlekang malas,
Lama.
Sampailah aku ditengah malam.
sedih ku tatap bintang.
sedang apa gerangan kau ?
Hanya sinar bias menyilaukan
Entah makna apa aku tak tau.
Kapankan kubertemu ?
Kapankah kita padu rindu ?
Satu minggu belum juga berlalu.
sabar kan ku tunggu datangmu
blg 80an
Showing posts with label Ungkapan hati. Show all posts
Showing posts with label Ungkapan hati. Show all posts
Friday, 10 July 2015
Sunday, 28 June 2015
KITA SERIGALA RIMBA
Seperti bermain catur kita saling menekak
Setiap setapak jalan,
Sedang, ladang kita biarkan kering
Tanpa sebatangpun tumbuh tanaman
Kita lebih suka sesama kita mati
Daripada bersama hidup
Maju kedepan bagai berbaris,
Itulah masing-masing hati
Tiada sedia digaduh Sekalipun dengan tepuk unjuk keriangan
Tapi bilamana sepi menyergap kita karena keperkasaan,
Berartikah kemenangan ?
Sebab kita mesti melolong
dan lolong kita sumbang kehilangan gema
9/83
Setiap setapak jalan,
Sedang, ladang kita biarkan kering
Tanpa sebatangpun tumbuh tanaman
Kita lebih suka sesama kita mati
Daripada bersama hidup
Maju kedepan bagai berbaris,
Itulah masing-masing hati
Tiada sedia digaduh Sekalipun dengan tepuk unjuk keriangan
Tapi bilamana sepi menyergap kita karena keperkasaan,
Berartikah kemenangan ?
Sebab kita mesti melolong
dan lolong kita sumbang kehilangan gema
9/83
SENJA LANGIT MALAM
Merataplah langit senja
Sebab matahari pergi
Tanpa menggores sebilur kesan
Menangislah langit senja
Sbab bulan yang diharap
Tak jadi datang
Tapi dikaki baratnya
Awan yang sempat menguning
Membentuk sebayang wajah
Untuk siapa
Tersenyum,
Pada siapa
Sedang cahaya di bawahnya
Kian lindap dalam petang
Menelan gunung
Menelan pedesaan
bl,5/80
Sebab matahari pergi
Tanpa menggores sebilur kesan
Menangislah langit senja
Sbab bulan yang diharap
Tak jadi datang
Tapi dikaki baratnya
Awan yang sempat menguning
Membentuk sebayang wajah
Untuk siapa
Tersenyum,
Pada siapa
Sedang cahaya di bawahnya
Kian lindap dalam petang
Menelan gunung
Menelan pedesaan
bl,5/80
Subscribe to:
Posts (Atom)