Pernah kau tanam setubuh bunga dalam pot gantungmu.
Entah harinya aku tak ingat, hanya kala kutau
pupuk yang kau taburkan adalah pasir ranum cintamu.
Sejak pertama kau serahkan,
bunga itu ku ajang pada dinding teras dadaku.
Hingga kini,
setiap deti bersiramkan percik-percik sejuk air jantungku.
Tapi.............................................................
Kau tau sendiri bukan,
jeruji besi memagar kamu.
Mana bisa tubuh alit ini menguak,
menyampaikan sekilankabar kesetiaan,
walau aku tak yakin kau harap atau tidak.
Ya, tak apalah.........................................
Angin masih terus membelai bumi.... menghampiriku,
yang barangkali sudi membawa sebuah bilangku
No comments:
Post a Comment