Wednesday, 16 September 2015

FOTO


FOTO

kutatap semakin akrab
didasar selembat kertas putih
duhai,
tanpa senyum menyapa :

"masihkah diwajahmu kemudaan ?"

kerut entah sedalam apa
tak ku temukan
melipat keningnya
aku jadi ragu !

"benarkah kau aku ?"

betapa putih giginya
tersenyum
tapi kuraba tiada
duhai,
kemana tanggalnya
mungkinkah bersama rambut putihku
yang rontok tiap terhembus angin

JAWABNYA APA

JAWABNYA APA ?

Tak terduga jika tengah malam itu
ikrar ingkar
bersama redupnya sebuah lampu.
Diluar bintang barat menolong
insan dalam kamar
teralu jauh memanahkan pandang.
Berisik selembar daun-pun
diam tuk berpegang, derik nyinyir
kalap tuk didekap.
maka langut usai jadinya tertimpang
sebuah tanya :

"hidup menuntut apa ?"
Jawabnya apa !

Sunday, 13 September 2015

KERINDUAN

Ketika senja perlahan datang
di hadapanku terbeber
nostalgia usang
yang bergerak lembut menggelitik
riang.

Belum jua senja sempurna
di hatiku
seempeng pilu bersarang
melindap sukma.
lalu renungku diayun pada
rerentetan jejak silam,
entah berapa lama.
Ketika tangan lepas berpegang
aku jatuh dalam kelam kerinduan.

Saturday, 12 September 2015

FLABOYAN

aku yang biasanya berteduh
dibawahmu, bila siang
sebab jika panas kau tikam
jadilah sejuk memercik
dan aku tertidur
oleh kerindanganmu

kini,
kau begitu gusar
meluruh daun satu-satu
bayangmu tiada
hilang bersama rindangmu
aku terenung
diri ini, kuteduhkan dimana ?
batangmu memutih kering
lapuk
lagi akar seruas segar kucari
tak ada

flamboyan, ya engkaulah
digumul siang aku merintih
takut tubuh kering pula
sedang peluh terus mengucur
membasah tanah kering
yang kejam merenggut hijaumu

KEMUDIAN KIITA DIBATAS JARAK

kemudian dalam genggaman kantuk kucapai muara
sementara engkau barangkali termangu
dihulu sana

di sini tiba-tiba aku dikepung berbagai persoalan,
haruskah kulawan
sedang sadar sepenuhnya pun tidak ?
sedianya aku memang pasrah
sebab kupikir akan lebih baik dari pada kembali dihempas,
tapi spontanitasku berontak ;
                                          "Pasrah berarti kalah, kawan !"
ah, jika saja engkau juga datang
setelah dengan gesit berhasil melipat batas
dan turut campur
atau sekedar bilang ;
                              "Ya, perangilah maka kau menang !"
Betapa kegagahanku kemudian bangkit
dengan seribu sabit didepan terentang.

SETELAH SEGALANYA MENJADI JAUH

I. RINDU

rinduku kepada teduh, sembuh dengan sebuah gambar
sebab meski kugapai realitanya;
bukankah telah dibatas jarak
antara tempatku bertahan dengan tempatmu diam ?



II. ADAT

disini semangat tak lagi menolong
sebab setiap hendak mesti diatur
dengan berbagai rumus dan perhitungan,
karenanya aku jadi penurut
yang senantiasa patuh nunggu giliran
sementara pemberontakan setiap sebentar bangkit




III. RESAH

semula aku tak pernah berfikir
bahwa terampil perlu sekali kursus
: itulah kerugianku,
tapi biarkan kutampik sesal
toh telah terlanjur
meski ditengah hiruk
kurasakan betapa resah



IV. TIKUS

aku seorang tikus,
merangkak bersama tikus-tikus yang lain
duh susahnya :
                     mereka amat berisik !
coba bayangkan :
sekedar meraih sisa jemuran uduk basi saja
yang oleh pemiliknya dilupakan,
hiruk mereka mengusik kepulasan

celakanya lagi,
mereka tak terbiasa menyimpan cicit



V. KEKASIH

kekasih,
pada kesendirian didalam rindu
mari kita adukan dunia
nan senantiasa berkabut ;
kenapa mesti Dia lengkapi pula dengan hidup
dan mati ?
sebab selama ini kita cuma mampu melongok
sedang jauh tiada batas
kecuali jarak dan waktu

kekasih,
pada keasingan didalam sepi
mari kita bicarakan hidup
nan senantiasa berhati ;
kenapa mesti Dia polesi pula dengan duka
dan suka ?
sebab selama ini kita cuma mampu mengeluh
sedang kodrat tiada lamis
kecuali nasib dan janji

SEPI YANG DIPEROLEH

Kemudian ia bertekat menawar sepi
bagai bangsa lampau melakukan barter,
dengan seonggok sagunya
;memang terlalu jenuh mensnggap hiruk !

kemudian ia beroleh sepi itu,
bagai pada semadhi begawan
dalam gua pewayangannya

kemudian dari sepi itu tampak
olehnya garis besar hidup,
maa diaji dengan berbagai pertanyaanya

Friday, 11 September 2015

PERSOALAN

Sekiranya mati itu pamungkas
atas segala pelik,
kenapa tak sedari dulu kutikam jantungku,
Toh bertelakan hidup serasa
tak habis diperam butuh
                          yang senantiasa ada.

PENGAKUAN

Sewaktu-waktu aku merasa
tak ingin kehilangan musuh,
Sebab sepi daripada dendam
adalah kematian
yang tiada tercipta damai


sewaktu-waktu aku merasa
ingin sekali bertemu,
tapi entah pada siapa
cuma jelas hati ini terlalu rindu
menanti kapan datang sebuah sapa

SETIAP KALI MENGELUH

Setiap kali mengeluh
bebanku bertambah berat
Dan kelunglaian
betapa mengogah tekat.

Barangkali sandang mereka
                              begini ,

Inginya yang mana
selain yang baru-baru ?
Sebab bagi kami bersahaja,
padahal sama sekali tidak !

Maka kami panhkali
selayaknya berpindah-pindah
parit dalam seupan,
Maka muskil
sekepis ikan muasi harap.



6/83

MATA KULIAH : PEMBINAAN WARGA GEREJA

1) Dasar dari Pembinaan Warga Gereja

Menurut Efesus 4:11-12, didalam segala pelayanan akan diberlakukan pembinaan warga gereja. Dari kegiatan tersebut mengandung arti dan tujuan yaitu untuk “...melengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, dan bagi pembangunan tubuh Kristus..” untuk itu PWG harus dipahami sebagai piranti untuk memberdayakan warga, dalam memenuhi tri-tugas panggilannya, yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani. Matius 28:19 adalah dasar utama bagi tri-tugas panggilan Gereja pada umumnya, khusus dibidang misiologi dan PAK. Tetapi dalam PWG yang ditekankan adalah memampukan warga Gereja dalam melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan. Yang berarti bahwa, pelayanan agama Kristen akan diterjemahkan dalam kegiatan2 sosial politik dalam masyarakat sehari-hari. Maka sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan dari para warga, diberikan tugas yang berbeda-beda(Ef 4:11). Semuanya dipanggil untuk menolong supaya setiap orang kudus diperlengkapi dalam pelayanan.

2) Ciri khas dari PWG

a. Keterbukaan, mampu berpikir kritis dan praktis, terbuka dengan pandangan orang lain
b. Kemandirian, mampu menerima orang lain, tetapi mempunyai harapan.
c. Oikumenis (oikumene), mampu berfikir implusif, tidak membeda-bedakan.
d. Awarness (menyadari) sadar sebagai umat tebusan.
e. Memiliki derajat konetivitas yang tinggi, mampu untuk bekerja sama dengan siapapun dan apa saja. Syarat utama dari kerjasama yang hakiki adalah perintah Yesus yang mengatakan, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”(Luk 10:27)
f. Mampu berfikir lugas, yaitu sikap yang kritis dan bertanggung jawab
g. Sikap dan semangat dialogis

3) Kedewasaan sikap warga dalam PWG

Adalah menjadi orang merdeka yang bebas untuk bertindak secara bertanggung jawab, baik di Gereja maupun di masyarakat selaku orang dewasa yang mempunyai pendirian teguh yang tidak akan dapat diombang ambingkan oleh permainan palsu manusia.

4) Yang saya ketahui tentang semangat dialogis dalam PWG adalah

Didalam PWG tidak ada istilah menggurui atau mengajari karena didalam PWG semuanya adalah sama, jadi menurut saya semangat dialogis dalam PWG adalah suatu komunikasi antar warga untuk untuk saling mengemukakan pendapatnya dan mencari kesepakatanya.

5) Aspek dasar teologis dan aspek teologis khusus dalam PWG

• Aspek teologis
Adalah Keterlibatan Allah dengan dunia ini. Kita tau bahwa dalam kejadian-kejadian didunia ini Allah selalu terlibat
Aspek ini muncul dari kesaksian Injil Yohanes yaitu Yoh 3:16,17
Inilah Firman Allah yang mensyahkan tugas Gereja kearah dan di tengah-tengah dunia, termasuk pelayanan orang kristen dan perlengkapan mereka untuk pelayanan itu. Dan kata-kata Yesus adalah pengakuan yang terutama. Dan ungkapan inilah yang tampil selaku garis merah dalam alkitab :
“pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1).
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam didalamnya” (Mzm 24:1)
“bagian –bagian bumi yang palinh dalam ada ditangan-Nya, puncak gunung-gunungpun kepunyaaNya” (Mzm 95:4)
Masih banyaak bagian lain dalam Alkitab yang bisa kita temukan, yang menjelaskan keterlibatan Allah dengan dunia ini. Namun Firman Allah sebagai teks harus dipahami dalam konteksnya, karena firman itu kekal meski dunia ini berubah (Mhz 46:3)

• Aspek Teologi khusus
Istilah pembinaan memang memang tidak ditemukan dalam Alkitab. Tetapi yang berhubungan dengan itu kita dapati daalam Alkitab yang berbentuk “oikodomai” atau “bangunan”(1 Kor 3:9). Dari Alkitab kita dapat menyimpulkan bahwa Gereja adalah bangunan Allah yang dinamis yang terdiri dari batu-batu yang hidup yang didirikan diatas batu penjuru Yesus Kristus. Maksudnya ialah gereja sebagai bangunan Allah yang dinamis adalah kumpulan orang-orang kudus yang saling membangun iman mereka didalam Yesus sebagai dasarnya.

6) Fungsi dan peran PWG

PWG adalah piranti untuk memberdayaan bagi warga gereja menuju kearah pendewasaan iman, yang bertumbuh kearah kristus. PWG sebagai model pola pemberdayaan warga untuk mempertajam tujuan yang akan dicapai dalam PWG berdasarkan kerjasama yang bertanggung jawab dalamm menyelesaikan masalah yang kian bertumbuh menjadi dewasa.

7) Proses perwujudan Firman Allah secara Teologis.

Secara teologis Firman Allah terwujud melalui kehadiran Tuhan Yesus Kristus dalam dunia sebagai pembebas dan penebus dosa manusia. Firman yang telah menjadi manusia yaiu Yesus Kristus Yoh 1

8) Arti dan tujuan PWG bagi kehidupan warga menurut Rasul Paulus dalam Ef 4:12-13

Supaya manusia diperlengkapi dalam pekerjaan pelayanan. Termasuk juga pelayanan ke arah dan ditengah-tengah masyarakat. Contohnya pelayanan sosial dan juga partisipasi dibidang politik.
Supaya kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah. Termasuk kesatuan secara oikumennis dari gereja sedunia. Kebenaran ini diungkapkan oleh rasul paulus dalam suratnya kepada jemaat dikolose”didalam Dialah tersembunyi segala hikmat dan pengetahuan

Sunday, 12 July 2015

HANYA PADAMU KASIH

Yang tercinta, kasih, tersayang
Dibawah tumpuan harapan
Ujung pangkal hidup dalam cinta
Pengikis kala hidup dalam duka
Pelngkap kala hidup terjerat rindu

Yang tercinta, kasih
Dikau dambaan hasrat semata
Penggapai hidup dan cinta kita
Tuk berinjak bersama
Hingga kealam tak fana

Yang tercnta, yang tersayang
Masih bencikh pada aku
Yang selalu bicara tentang,
Peluk dan cium?!...  tanda sayang...

Karena cinta,kuharap pengertian.....
Karena kasih,kuharap pendektan.
Karena pilu,kuahrap pelukan.
Karena rindu kuharap ciuman.

Kasih...., kasihku
Maksud hati, bukan tuk menjamahmu..
pada Tuhan, ku bersumpah demi cinta.........

Friday, 10 July 2015

Pada Siapa Aku Bercerita

Pada siapa aku bercerita
Tentang hidup bak di alam suci
Tentang hidup yang tak enggan mati
Tentang hidup 1000 tahun lagi

Tentang bulat tekatnya perang
Tentang Semangat suci pejuang
Tentang puas bangganya menang

Pada siapa aku bercerita
Tentang sedih dukanya rakyat
Tentang jeratan erat melarat
Tentang tulung-mentungnya lintah

ceritaku bukan untuk siapa-siapa
Hanya untuk kuresapi dalam hati..

Sajak Rinduku

Detik berdetak lambat.
Hari berlekang malas,
Lama.

Sampailah aku ditengah malam.
sedih ku tatap bintang.
sedang apa gerangan kau ?
Hanya sinar bias menyilaukan
Entah makna apa aku tak tau.

Kapankan kubertemu ?
Kapankah kita padu rindu ?
Satu minggu belum juga berlalu.
sabar kan ku tunggu datangmu


blg 80an

Sunday, 28 June 2015

KITA SERIGALA RIMBA

Seperti bermain catur kita saling menekak
Setiap setapak jalan,
Sedang, ladang kita biarkan kering
Tanpa sebatangpun tumbuh tanaman

Kita lebih suka sesama kita mati
Daripada bersama hidup
Maju kedepan bagai berbaris,
Itulah masing-masing hati
Tiada sedia digaduh Sekalipun dengan tepuk unjuk keriangan

Tapi bilamana sepi menyergap kita karena keperkasaan,
Berartikah kemenangan ?
Sebab kita mesti melolong
dan lolong kita sumbang kehilangan gema


                                                9/83

SENJA LANGIT MALAM

Merataplah langit senja
Sebab matahari pergi
Tanpa menggores sebilur kesan
Menangislah langit senja
Sbab bulan yang diharap
Tak jadi datang

Tapi dikaki baratnya
Awan yang sempat menguning
Membentuk sebayang wajah
Untuk siapa
Tersenyum,
Pada siapa
Sedang cahaya di bawahnya
Kian lindap dalam petang
Menelan gunung
Menelan pedesaan

                                              bl,5/80