BAB
I
PENDAHULUAN
Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal
budinya untuk memahaminya atau mendalami secara radikal dan integral serta
sistematis. Dalam mempelajari ilmu filsafat kita akan mengenal beberapa zaman
yang memiliki pandangan serta ajaran berbeda dalam hal filsafat. Dalam sejarah
manusia kita mengenal tiga era atau zaman yang memiliki ciri khas nya masing –
masing. Yaitu pramodern, modern dan postmodern. Zaman modern ditandai dengan
afirmasi diri manusia sebagai subjek. Sedangkan zaman postmodern merupakan
kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janjinya. Post modern
juga cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas
yaitu akumulasi pengaruh budaya barat.
Lintasan
sejarah mencerminkan perkembangan peradaban manusia di muka bumi. Gelombang
perubahan tersebut terejewantahkan dalam perkembangan kehidupan sosialnya.
Manusia senantiasa merasa tidak puas dan tidak dapat bertahan dengan perkembangan
pengetahuan pada periode-periode sebelumnya. Secara teologis, pengetahuan
animisme, bergeser menuju dinamisme dari dinamisme menuju ke politeisme, dan
politeisme menuju konsep monoteisme. Menyangkut paradigma ilmu pengetahuan,
dari teosentris, ke empirisme, dari empiris ke rasionalisme, dari rasionalisme
ke positivisme, dari positivisme ke materialisme, dari materialisme ke
idealisme dan pada tataran tertentu intuisionisme juga mendapat posisinya
sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Berbagai simbol telah diciptakan manusia
untuk dilekatkan mewakili bahasa manusia dalam menyebut pergeseran paradigma
pemikiran dan pengetahuan manusia dari waktu ke waktu.
Kerangka pikir atas pergeseran
pengetahuan manusia mengacu pada sebuah frame
besar yakni masa kuno/klasik, masa pertengahan, masa modern dan postmodern.
Secara siginifikan masa klasik dan pertengahan di barat, wacana pikir dan
rasionalisme manusia, belum mendapatkan porsi yang signifikan. Pada masa modern
rasio manusia seolah-olah sebuah kendaraan yang sangat daksyat mengantarkan
manusia pada sebuah kehidupan yang seolah-olah nyaman dan penuh kemapanan.
Dengan perkembangan teknologi yang terstruktur sedemikian rupa. Disinilah
modernisme dicirikan dengan gerakan rasionalisme yang begitu gencar.
Rasionalisme telah menggiring manusia pada sebuah masa pencerahan yang disebut
dengan mainstream pemikiran modernisme dan fakta sosialnya disebut modernitas.
Setelah berjalan sekian dekade kemapanan dan kenyamanan paham modernisme
mendapat kritik dan pergeseran paradigma. Pergeseran pemikiran modernisme itu
mendapat kritik yang cukup signifikan yang merupakan mainstream gerakan
postmodernisme dengan segala lingkup dan permasalahannya.
BAB
II
ISI
A. Filsafat
Zaman Modern
Pada zaman modern manusia menyadari
dirinya sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran
segala sesuatu. Manusia dalam masyarakat abad pertengahan lebih mengenali
dirinya sebagai ras, rakyat, partai, keluarga atau kolektif. Lewat modernisasi,
manusia lebih menyadari dirinya sebagai individu, kemajuan ekonomi dan terutama
seni sangat besar andilnya dalam peningkatan kesadaran akan subjektivitas ini.
Pernyataan Descartes yang termasyhur, cogito ergo sum (saya berpikir maka saya
ada) menjadi formulasi padat kesadaran zaman modern yang terus dipertahankan
bahkan sampai abad ke-20 ini bahwa manusia (individu) bisa mengetahui kenyataan
dengan rasionya sendiri. Di abad ke-19, Marx, (ilham dari Hegel), menegaskan
bahwa manusia adalah subjek sejarah, manusia tidak hanyut dipermainkan waktu,
melainkan perancang sejarahnya sendiri. Dengan demikian subjektivitas dipahami
dalam matra historisnya.
Rasio tidak hanya sumber
pengetahuan, melainkan juga menjadi kemampuan praktis untuk membebaskan
individu dari wewenang untuk menghancurkan prasangka yang menyesatkan. Kant
merumuskan kritik sebagai keberanian untuk berpikir sendiri di luar tuntunan
tradisi atau otoritas. Dia mengatakan "terbangun dari tidur
dogmatis", yaitu: kemampuan kritis rasio membuatnya bebas dari prasangka-prasangka
pemikiran tradisional. Subjektivitas dan kritik pada gilirannya mengandaikan
keyakinan akan kemajuan. Manusia menyadari waktu sebagai sumber langka yang tak
terulangi. Waktu dialami sebagai rangkaian peristiwa yang mengarah pada satu
tujuan yang dituju oleh subjektivitas dan kritik itu.
Sejarah Zaman Modern
Zaman ini sebenarnya sudah terintis mulai dari abad
14 M. Tetapi, indikator yang nyata terlihat jelas pada abad 17 M dan
berlangsung hingga abad 20 M. Hal ini ditandai dengan adanya penemuan-penemuan
dalam bidang ilmiah. Terdapat ada tiga sumber pokok yang menyebabkan
berkembangnya ilmu pengetahuan di Eropa dengan pesat, yaitu hubungan antara
kerajaan Islam di Semenanjung Liberia dengan negara Perancis, terjadinya Perang
Salib dari tahun 1100-1300, dan jatuhnya Istambul ke tangan Turki pada tahun
1453.
Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern ini sesungguhnya
sudah dirintis sejak zaman Renaissance. Renaissance sering diartikan
denagn kebangkitan, peralihan, atau lahir kembali (rebirth), yaitu di lahirkan
kembali sebagai manusia yang bebas untuk berpikir , dan jauh dari ajaran-ajaran
agama. Jadi, zaman Modern filsafat didahului oleh zaman Renaissance.
Sebenarnya secara esensial zaman Renaissance itu, dalam filsafat, tidak
berbeda dari zaman modern. Ciri-ciri filsafat Renaissance ada pada
filsafat modern. Filsafat modern menampakkan karakteristiknya dengan lahirnya
aneka aliran-aliran besar filsafat, yang diawali oleh Rasionalisme dan Empirisme
dan Kriticisme. Selain ketiga aliran itu, juga akan diketengahkan
aliran-aliran besar lainnya yang ikut berperan mengisi lembaran filsafat
modern, yaitu idealisme, materialisme, positivisme, fenomenologi,
eksistensialisme dan pragmatism.
Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari
kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri
manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda
pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan
adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme,
sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin,
maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba
memadukan kedua pendapat berbeda itu.
Pola Pemikiran Modern
Pemikiran abad pertengahan ditandai oleh kesatuan,
keutuhan, dan totalitas yang koheren dan sistematis dalam bentuk metafisika
atau ontologi. Oleh pemikir abad pertengahan kenyataan dilukiskan sebagai
sebuah tatanan sistematis yang hierarkial (kenyataan tertinggi dan terendah,
terabstrak dan konkret), Thomas Aquinas adalah puncak dari pemikiran abad
pertengahan ini. Pemikiran modern sebagai suatu pemberontakan terhadap alam
pikir abad pertengahan itu. Filsafat modern sebagai pemberontakan intelektual
terus-menerus terhadap metafisika tradisional. Dari pemberontakan ini, cara
berpikir filosofis yang mendasarkan pada rasio menjadi otonom dari pemikiran
atas dasar iman ("teologi"). Pemisahan filsafat dari teologi
berlanjut pada abad ke-18 dan 19 menjadi pemisahan ilmu pengetahuan dari
filsafat.
Filsafat Modern sebagai
Pemberontakan Intelektual. Di satu sisi, modernitas dianggap sebagai
disintegrasi intelektual. Filsafat modern lebih menampilkan dirinya sebagai
anarkhi dan kekacauan dari pada keutuhan dan ketertiban, sebuah kemerosotan
intelektual. Di lain sisi, filsafat modern dianggap sebagai emansipasi, sebuah
kemajuan berpikir, dari kemandegan dan pendewaan pemikiran metafisis yang
mendukung sistem kekuasaan gerejawi tradisional. Pihak kedua mendukung
radikalisasi lebih lanjut, pemisahan ilmu pengetahuan dari filsafat. Hancurnya
metafisika tradisional disambut gembira Nietzsche, Kant, Comte, di lain pihak,
Hegel dan Marx ingin mengembalikan integrasi metafisis itu dari
puing-puingnya.Usaha melepas diri dari tradisi, filsafat modern meluncurkan
tema-tema baru, pengetahuan yang sekarang dikenal sebagai "ilmu
pengetahuan modern", yakni ilmu-ilmu alam, seperti Galileo, Bacon dan
Descartes sangat menekankan "metode" untuk mengetahui. Kalau filsafat
tradisional ramai mempersoalkan kenyataan adikodrati (Allah, roh, dst), para
filsuf modern sibuk mempersoalkan cara untuk menemukan dasar pengetahuan yang
sahih tentang semua itu. Lambat laun minat refleksi akan Allah bergeser ke
refleksi atas manusia dengan segala kemampuan kodratinya. Jadi, teosentrisme
bergeser keantroposentrisme. Kemampuan manusia sebagai subjektivitas, seperti:
rasio, persepsi, afeksi, dan kehendaknya menjadi tema-tema refleksi baru.
Di awal zaman modern, rumusan
"Cogito ergo sum" dari Descartes bersesuaian dengan interpretasi
subjektif atas iman dari Luther. Jika pengetahuan dicapai oleh dirinya sendiri
dan iman ditafsirkan sendiri, yang dilawan di sini bukan hanya ajaran-ajaran
resmi tentang pengetahuan yang benar, melainkan juga praktik-praktik totaliter
gereja Abad Pertengahan yang dilegitimasikan ajaran-ajaran itu. Di abad ke-18,
John Locke dan Adam Smith merumuskan hak-hak milik yang menandai
praktik-praktik ekonomi kapitalis zaman itu. Praktik-praktik yang lama mendapat
serangan gencar dari Marx yang memperlihatkan hak milik sehagai biang keladi
penindasan dalam masyarakat. Renaisans dan Gerakan Humanisme. Memang
warisan-warisan kebudayaan Yunani dan Romawi kuno dipelajari lagi oleh para
cendikiawan yang pada zaman itu disebut "kaum humanis". Namun hasil
pengolahan kembali warisan antik itu adalah sesuatu yang baru, sehingga
renaisans itu bukanlah reproduksi kultur antik, melainkan interpretasi baru
atasnya. Gerakan humanisme lalu ditandai oleh kepercayaan akan kemampuan
manusia, hasrat intelektual, dan penghargaan akan disiplin intelektual. Kaum
humanis percaya bahwa rasio dapat melakukan segalanya dan lebih penting dari
pada iman. Karena itu, penelitian filologis tidak hanya dilakukan atas sastra
klasik, artinya, teks suci ini mulai dipelajari dengan rasio belaka. Karena
percaya akan kemampuan intelektual, kaum humanis juga menekankan pentingnya
perubahan-perubahan sosial, politis dan ekonomi. Kekuasaan absolut gereja makin
keropos, dan sebagai gantinya muncul kecenderungan membentuk negara-negara
nasional. Kaum humanis mendorong sekularisasi (pemisahan kekuasaan politis dari
agama).
Konflik
Zaman Modern
Goncangan yang keras di ambang
modernitas, dihasilkan oleh penemuan-penemuan ilmiah. Nicolas Copernicus
(1473-1543), lewat penelitian astronomisnya, menghancurkan otoritas astronomi
tradisional yang didominasi oleh teori Aristoteles dan Ptolemaeus yang
mengandaikan bumi adalah pusat semesta. Konsep-konsep kuno ditolak secara
matematis bahwa bumi mengitari matahari sebagai pusat semesta. Copernicus
mengguncangkan kemapanan penafsiran religius saat itu paling jelas ditampilkan
dalam peristiwa Galileo-Galilei (1564-1642), berhasil membuktikan teori
Copernicus lewat teleskop temuannya pada tahun 1610. Karena dianggap
menyebarkan teori heliosentrisme, dia dihukum oleh Inkuisisi (intelejen
gereja), dicukil matanya. Apa yang berkembang di sini tak lain pada observasi
empiris, sebuah metode yang sangat sentral bagi perkembangan ilmu-ilmu modern.
Reformasi dan Pengaruhnya atas
Filsafat. Jika Renaisans dengan humanismenya merupakan gerakan elite
intelektual, Reformasi adalah gerakan massa. Renaisans adalah gerakan
kebudayaan, sedang Reformasi adalah gerakan teologis dan politis. Martin Luther
(1483-1546) sebagai peletusan gerakan massal yang pada mulanya adalah protes
atas ulah seorang teolog bernama John Tetzel (mengusahakan uang bagi Paus Leo X
dan uskup Magdeburg dengan mengkotbahkan hukuman neraka yang bisa dikurangi
dengan membeli surat aflat). Dengan 95 tesis, protesnya bukan hanya didukung
dari kelas menengah Jerman, meluas menjadi gerakan demokratisasi religius
sampai ke gerakan-gerakan petani.
Tokoh
Tokoh Pada Zaman Modern
Tokoh penemu di bidang sains pada
masa renaisans (abad 15-16 M): Nicolaus Copernicus (1473-1543 M), Johanes
Kepler (1571-1630 M), Galileo Galilei (1564-1643 M), dan Francis Bacon
(1561-1626 M).
Selanjutnya tokoh penemu di bidang
sains pada zaman modern (abad 17-19 M): Sir Isaac Newton (1643-1727 M), Leibniz
(1646-1716 M), Joseph Black (1728-1799 M), Joseph Prestley (1733-1804 M),
Antonie Laurent Lavoiser (1743-1794 M), dan J.J. Thompson. Perkembangan ilmu
pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan
statistika, sementara pada abad ke-19 lahirlah pharmakologi, geofisika,
geomophologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Pada tahap selanjutnya,
ilmu-ilmu zaman modern memengaruhi perkembangan ilmu zaman kontemporer.
Zaman
modern ini sebenarnya sudah terintis mulai dari abad 15 M. Tetapi, indikator
yang nyata terlihat jelas pada abad 17 M dan berlangsung hingga abad 20 M. Hal
ini ditandai dengan ditandai dengan adanya penemuan-penemuan dalam bidang
ilmiah. Menurut Slamet Iman Sontoso, dalam buku yang disusun oleh Tim Dosen
Filsafat Ilmu UGM (2001:79) ada tiga sumber pokok yang menyebabkan
berkembangnya ilmu pengetahuan di Eropa dengan pesat, yaitu hubungan antara
kerajaan Islam di Semenanjung Liberia dengan negara Perancis, terjadinya Perang
Salib dari tahun 1100-1300, dan jatuhnya Istambul ke tangan Turki pada tahun
1453. Ilmuwan pada zaman ini membuat penemuan dalam bidang ilmiah. Eropa yang
merupakan basis perkembangan ilmu melahirkan ilmuwan yang popular.
Zaman modern di tandai dengan
berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman
modern sesungguhnya sudah di rintis sejak zaman Renaissance. Tokoh yang
terkenal sebagai bapak filsafat modern adalah Rene Descartes. Rene Descartes juga
sebagai ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah system koordinat yang
terdiri atas dua garis lurus X Dan Y dalam bidang datar. Isaac Newton dengan
temuannya teori grafitasi. Charles Darwin dengan teorinya struggle for
live ( Perjuangan untuk hidup ). J.J Thompson dengan temuannya electron.
Berikut penjelasan sekilas dari filsuf-filsuf tersebut.
B. Zaman
Postmodern
Secara etimologis postmodernisme
terbagi menjadi dua kata, post dan modern. Sedangkan secara terminologi menurut
tokoh dari post modern, Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan postmodern secara
gamblang dalam istilah yang berlawanan seperti post modernisme merupakan kritik
atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji – janjinya. Juga postmodern
cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas yaitu
pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi,
kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka
meragukan prioritas – prioritas modern seperta karier, jabatan, tanggung jawab
personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme,
penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral,peraturan impersonal
dan rasionalitas. Kedua, teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang
biasanya dikenal dengan pandangan dunia ( world view ), metanarasi, totalitas,
dan sebagainya
Sejarah
Filsafat Postmodern
Postmodern
pertama kali muncul di Prancis sekitar tahun 1970-an. Pada awalnya postmodern
lahir terhadap kritik arsitektur, dan harus kita akui kata postmodern itu
sendiri muncul sebagai bagian modernitas. Benih posmo pada awalnya tumbuh di
lingkungan arsitektur. Charles Jencks dengan bukunya “The Language of
Postmodern” . Architecture (1975) menyebut postmodern sebagai upaya untuk mencari
pluralisme gaya arsitektur setelah ratusan tahun terkurung satu gaya. Pada sore
hari di bulan juli 1972, bangunan yang mana melambangkan kemodernisasian di
ledakkan dengan dinamit. Peristiwa peledakan ini menandai kematian modern dan
menandakan kelahiran posrmodern. Ketika postmodern mulai memasuki ranah
filsafat, post dalam modern tidak dimaksudkan sebagai sebuah periode atau waktu
tetapi lebih merupakan sebuah konsep yang hendak melampaui segala hal modern.
Postmodern ini merupakan sebuah kritik atas realitas
modernitas yang dianggap telah gagal dalam melanjutkan proyek pencerahan. Nafas
utama dari posmodern adalah penolakan atas narasi – narasi besar yang muncul
pada dunia modern dengan ketunggalan gangguan terhadap akal budi dan mulai
memberi tempat bagi narasi – narasi kecil, lokal, tersebar dan beraneka ragam
untuk untuk bersuara dan menampakkan dirinya. Postmodernisme bersifat relatif.
Kebenaran adalah relatif, kenyataan atau realita adalah relatif, dan keduanya
menjadi konstruk yang tidak bersambungan satu sama lain. Dalam postmodernisme,
pikiran digantikan oleh keinginan, penalaran digantikan oleh relativisme.
Kenyataan tidak lebih dari konstruk sosial, kebenaran disamakan dengan kekuatan
atau kekuasaan. Akhirnya, pemikiran postmodern ini mulai mempengaruhi berbagai
bidang kehidupan, termasuk dalam bidang filsafat, ilmu pengetahuan dan
sosiologi. Postmodern akhiryna menjadi kritik kebudayaan atas modernita.
Ciri Ciri Post Modern
Fenomena postmodern mencakup banyak
dimensi dari masyakat kontemporer. Postmodern adalah suasana intelektual yang
bersifat Ide atau ”isme” postmodernisme. Para ahli saling berdebat untuk
mencari aspek-aspek apa saja yang termasuk dalam postmodernisme. Tetapi mereka
telah mencapai kesepakatan pada satu butir: fenomena ini menandai berakhirnya
sebuah cara pandang universalisme ilmu pengetahuan modern. Postmodem menolak
penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten yang merupakan bagian
identitas dasar yang membuat kokoh dan tegaknya modernisme. Kaum postmodernis
mengkritik dan menggantikan semua itu dengan sikap menghargai kepada perbedaan
dan penghormatan kepada yang khusus (partikular dan lokal). Lalu membuang yang
universal. Postmodernisme menolak penekanan kepada penemuan ilmiah melalui
metode sains. Metode ilmiah ini merupakan fondasi intelektual dari modernisme
untuk menciptakan dunia yang seolah-olah lebih baik pada masa-masa awal masa
pencerahan. Metode ilmiah telah mengantarkan modernisme dalam bentuk praktisnya
berbagai teknologi.
Dari paparan ini dimaksudkan bahwa
ciri dari postmodern adalah melingkupi
hal-hal secara konseptual ide yang meliputi:[1][8] Pertama, Ide yang menghendaki
penghargaan besar terhadap alam ini sebagai kritik atas gerakan modernisme yang
mengeksploitasi alam. Kedua, Ide yang menekankan pentingnya bahasa
(Hermeneutik, Filologi) dalam kehidupan
manusia dengan segala konsep dan analisanya yang kompleks, ini sebagai antitesa
atas kondisi modernisme atas kuasa tafsir oleh mesin birokrasi ilmu
pengetahuan. Ketiga, Ide besar untuk
mengurangi kekaguman terhadap ilmu pengetahuan, kapitaslisme, dan teknologi
yang muncul dari perkembangan modernisme. Dengan alasan bahwa semua itu telah
melahirkan konstruksi manusia sebagai obyek yang mati dalam realitas
kehidupannya. Sehingga menjauhkan manusia dari humanismenya itu sendiri. Keempat, ide pentingnya inklusivitas
dalam menerima tantangan agama lain atas
agama dominant sehingga terbuka munculnya ruang dialogis. Ini muncul sebagai
akibat menjamurnya dan tumbuhkembangnya realitas modernis yang menempatkan
ideologi sebagai alat pembenar masing-masing. Kelima, sikap yang cenderung permisive dan menerima terhadap ideologi dan juga agama lain dengan
berbagai penafsiran. Keenam, secara
kasuistik munculnya ide pergeseran dominasi kulit putih di dunia barat. Hal itu merupakan ide-ide cemerlang
yang menjadi daya dorong kebangkitan
golongan tertindas, seperti golongan ras, gender, kelas minoritas secara sosial
yang tersisihkan. Ketujuh Ide tentang
tumbuhnya kesadaran akan pentingnya interdependensi secara radikal dari
semua pihak dengan cara yang dapat dan memungkinkan terpikirkan oleh manusia
secara menyeluruh.
Untuk itulah kehidupan dunia harus
diselamatkan dari proses kolonialisasi ilmu pengetahuan. Postmodernisme dengan
gerakan postkolonialismenya menggempur habis-habisan jerat kuasa pengetahun
yang bersembunyi atas nama bendera modernisme. Disinilah bisa kita temukan
watak menonjol dari era postmodernisme mengandung kecenderungan diantaranya;
mengangkat konsep pluralisme, Mengacu nilai yang bersifat A Historis, penekanan
pada konsepsi empiris dalam arti konsep fenomenologi dialektis, dan Penekanan
pada nilai individualitas diri manusia sebagai sang otonom sehingga
postmodernisme menolak nilai-nilai absolutisme, universalitas, dan homogenitas.[2][9] Watak utama
postmodernisme tersimpul dalam konsep kritik ideologi besar atas ilmu
pengetahuan yang disebut dengan dekonstruksi yang dipelopori oleh Derrida . Konsep dekonstruksi
Derrida ini merupakan penyempurnaan dari ide destruksi yang dipelopori oleh
Heidegger. Meski diantara derrida ada sejumlah persamaan dan perbedaannya dalam
memandang realitas sebagai sebuah inspirasi pemikiran manusia.
Konflik Post
Modern
Beberapa
kecenderungan umum yang mendasari gerakan postmodernisme yang bisa dianggap
sebagai kerangka konseptualisasi, muculnya gerakan postmodernisme adalah persoalan – persoalan yang menyangkut
hal - hal sebagai berikut: pertama,
segala ‘realitas’ adalah konstruksi semiotis, artifisial dan ideologis.
Kedua, sikap Skeptis dan kritis diri terhadap segala bentuk keyakinan tentang
‘substansi’. Ketiga, Realitas bisa ditangkap dengan banyak cara (pluralisme).
Keempat, segala ‘sistem’ konotasi otonom
dan tertutup, diganti dengan ‘jaringan’, ‘relasionalitas’ ataupun ‘proses’ yang
senantiasa saling-silang dan bergerak dinamis. Kelima, segala unsur ikut saling
menentukan dalam interaksi jaringan dan proses dalam interelasinya dengan bebagai aspek, tidak hanya sebagai oposisi
biner (either-or ) dengan dua sisi saja. Keenam, segala hal harus
dilihat secara holistik berbagai kemampuan (faculties) lain selain
rasionalitas, misalnya, emosi, imajinasi, intuisi, spiritualitas, dan
sebagainya. Ketujuh, segala hal dan pengalaman
yang selalu dimarginalisasi oleh pola ilmu pengetahuan modern dikembalikan ke
tengah menjadi fream pemikiran.[3][10] Misalnya,
gender, feminisme kaum perempuan,
tradisi-tradisi lokal, paranormal, agama.
Dalam diskusi
lanjutan seringkali kata postmodernisme dan postmodernitas diperdebatkan. Walaupun sebenarnya konseptualisasi
ini cukup bisa dimengerti bahwa modernisme berarti isme pemahaman
tentang ranah ide kognitif. Sementara Postmodernitas, merupakan istilah yang
biasanya digunakan untuk menggambarkan realitas sosial masyarakat
post-industri. Sedangkan postmodernisme dimengerti sebagai wacana pemikiran
baru yang menggantikan modernisme.
Postmodernisme meluluhlantakkan konsep-konsep (isme-isme) modernisme seperti
adanya subyek yang sadar diri dan otonom, adanya representasi istimewa tentang
dunia, dan sejarah linier.
Persoalan-persoalan
postmodernisme muncul, merupakan gaya atau gerakan di dalam sastra, seni lukis,
seni plastik, dan arsitektur. Gerakan ini memperhatikan aspek-aspek aesthetic reflection dari modernitas.
Sementara itu postmodernitas dimengertinya sebagai tatanan sosial baru yang
berbeda dengan institusi-institusi modernitas. Postmodernisme prinsipnya adalah
sejajar dengan istilah “modernitas yang teradikalisasi” (radicalized modernity) untuk menggambarkan dunia kita yang
mengalami perubahan hebat dan sedang melaju kencang tak bisa lagi dikendalikan.
Suatu dunia yang mrucut (runaway world). Jadi apa yang terjadi
sekarang ini adalah “modernitas yang sadar diri”.
Postmodernitas
harus dimengerti sebagai gaya berpikir yang curiga terhadap pengertian klasik
tentang kebenaran, rasionalitas, identitas, obyektivitas, curiga terhadap ide
kemajuan universal atau emansipasi, curiga akan satu kerangka kerja, grand narrative atau dasar-dasar
terdalam dalam penjelasan. Berlawanan dengan norma-norma pencerahan ini,
postmodernitas melihat dunia sebagai yang kontigen, tak berdasar, tak
seragam, tak stabil, tak dapat ditentukan, seperangkat kebudayaan yang plural
atau penafsiran yang melahirkan skeptisisme terhadap obyektivitas kebenaran,
sejarah dan norma-norma, kodrat yang terberikan serta koherensi identitas.
Postmodernisme juga dimengerti sebagai gaya kebudayaan yang merefleksikan
sesuatu dalam perubahan jaman ini ke dalam suatu seni yang diwarnai oleh
ketakmendalaman, ketakterpusatan, ketakberdasaran; seni yang self-reflexive, penuh permainan,
ekletik, serta pluralistik. Seni semacam ini mengaburkan batas antara budaya
‘tinggi’ dan budaya ‘pop’, antara seni dan hidup harian. Demikian inilah segala
aspek yang mennjadi persoalan-persoalan dalam mendiskusikan posmodernisme.
C. Tokoh
atau Filusuf Postmodern
1. Frederich
Wilhelm Nietzsche
Lahir di Rochen,
Prusia 15 Oktober 1884. Pada masa sekolah dan mahasiswa, ia banyak berkenalan
dengan orang – orang besar yang kelak memberikan pengaruh terhadap
pemikirannya, swperti John Goethe, Richard Wagner, dan Fraderich Ritschl.
Karier bergengsi yang pernah didudukinya adalah sebagai Profesor di Universitas
Base.
2. Charles
Sanders Pierce
Charles Sanders
Pierce, 10 September 1839 adalah seorang filsuf, ahli logika semiotika,
matematika dan ilmuan Amerika Serikat yang lahir di Cambridge, Massachusetts.
3. Michel
Foucault
Paul – Michel
Foucault (Poitiers, 15 Oktober 1926 – Paris 25 Juni 1984) adalah seorang filsuf
asal Perancis. Ia adalah salah satu pemikir paling berpengaruh pada zaman pasca
perang dunia II. Foucault dikenal akan penelaahannya yang kritis terhadap
berbagai institusi sosial, terutama psikiatri, kedokteran dan sistem penjara,
serta karya – karyanya tentang riwayat seksualitas. Karyanya yang terkait
kekuasaan dan hubungan antara kekuasaan
dengan pengetahuan telah banyak didiskusikan dan diterapkan, selain pula
pemikirannya yang terkait dengan “diskursus” dalam konteks sejarah filsafat
barat.
4. Jacqeues
Derrida (Al – jazair 15 Juli 1930 – Paris 9 Oktober 2004. Adalah seorang filsuf
Prancis keturunan Yahudi sebagai pendiri ilmu dekonstruktivisme.
5. Jan
Mukarovsky
Mukarovsky lahir
di Bohemia (1891 – 1975). Sebagai pengikut strukturalisme Praha, ia kemudian
mengalami pergeseran perhatian dari struktur kearah tanggapan pembaca. Aliran
inilah yang disebut strukturalisme dinamik.
6. Hans
Robert Jauss
Jauss lahir di
Jerman. Ia termasuk dalam kelompok konstanz, nama yang diambil dari sebuah
Universitas di Jerman Selatan. Sebagai ahli sastra dan kebudayaan abad
pertengahan Jauss ingin memberbaharui cara – cara lama yang mendeskripsikan
aspek – aspek kesejarahan sehingga menjadi lebih menjadi hermeneuitas. Tetapi
di pihak lain, ia juga ingin memperbaharui kelemahan kelompok formalis yang
semata – bersifat estetis dan Marxs yang semata – mata bersifat kenyataan.
BAB
III
KESIMPULAN
1. Zaman renasains yang merupakan era sejarah yang penuh dengan
kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu yaitu dengan
munculnya ilmuan – ilmuan seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543 M), Johanes
Kepler (1571-1630 M), Galileo Galilei (1564-1643 M), dan Francis Bacon
(1561-1626 M).
2. Postmodern
lahir sebagai reaksi dan kritik terhadap modernisme yang penuh akan kesalahan
dan kegagalan diberbagai bidang (walaupun beberapa tidak sepenuhnya gagal).
Postmodernisme mengatakan bahwa tidak ada kebenaran universal yang valid untuk
setiap orang. Individu terkunci dalam pandangan terbatas oleh ras, gender dan
grup etnis masing – masing. Berbeda dengan filsafat sebelumnya zaman modern
yang mendasari metodenya dengan rasionalitasnya. Pada zaman ini seakan – akan
tidak ada lagi standar kebenaran. Kebenaran adalah relative, kenyataan adalah
relative dan keduanya menjadi konstruk yang tidak bersambungan satu sama lain.
Dalam postmodernisme, pikiran digantikan oleh keinginan, moralitas digantikan
oleh keinginan, penalaran digantikan oleh emosi dan moralitas digantikan oleh
relativisme, kenyataan tidak lebih dari konstruk sosial, kebenaran disamakan
dengan kekuatan atau kekuasaan.
No comments:
Post a Comment