dari jendela, rerantingan ranggas
genting-genting pecah, tanah rekah sehabis
diguncang, selembar langit kelam
kabel-kabel menyerah, wajah-wajah suram
semakin pias sehabis dirajam
dari jendela angin yang diam
percakapan bungkam dari radio
yang dimatikan
orkestra mendayu mendadak hilang
dan menjadikan celingukan
mencari-cari isyarat dari seluruh cakap
dari mulut-mulut bungkam
rindu dengan-Nya berdekap,
entah kapan
melengkap
No comments:
Post a Comment